Masalah :
Dokter Waldi yang baik,
Saya ibu dua anak yang sudah beranjak dewasa dan remaja (20 dan 15 tahun). Meski sudah besar, bagi saya mereka tetaplah anak-anak.
Anak pertama saya minum susu formula karena ASI saya mampat dan tak keluar lagi sampai ia berusia 3 bulan. Anak ke 2 mendapat ASI sampai usia 14 bulan.
Kedua anak saya ngedot susu formula impor yang mahal sampai usia 4,5 tahun (karena ternyata saya korban iklan susu). Sayangnya, kedua anak saya terlahir dengan asma keturunan. Bahkan sampai usia 8 tahun tubuh anak ke 2 saya sangat kecil, ringkih, dan kedua tulang pundaknya terangkat ke atas. Kini alhamdulillah sehat, dengan TB 178 cm dan BB 63 kg. Ia pun suka berenang dan karate, serta tanpa serangan asma selama 3 tahun terakhir.
Sebenarnya apa manfaat susu bagi anak-anak, remaja, dan dewasa? Kami pernah tinggal di Illinois, AS. Selama di sana, anak-anak sangat sehat, tanpa serangan asma sama sekali, bahkan di saat suhu - 15 C. Mereka minum susu cair segar karena di sana tak biasa minum susu bubuk. Masalah timbul saat kami pulang ke Tanah Air. Asma anak-anak kambuh lagi.
Dokter melarang keras minum susu sapi, dan harus susu kedelai merek tertentu. Anak-anak protes karena rasanya tak enak. Mengapa banyak dokter anak di Indonesia suka sekali melarang anak minum susu sapi dan merujuk minum susu lain? Penting tidak, anak dan kita minum susu?
Suku Indian di Amerika tergolongan alergi susu dan dairy products, bahkan suatu kali dr. Waldi pernah bilang, kita adalah ras Mongol yang tak perlu susu. Saya tak percaya produk susu merek tertentu memiliki khasiat hebat tertentu. Orang di negara maju hanya minum satu macam susu: susu sapi segar. Terima kasih.
Ny. Rianani PR - Malang
Jawaban :
Ibu Riani yang heran dan kritis di Sukun,
Wah, senang ya pernah tinggal di negeri maju, bisa banyak belajar dan mengenal perbedaan, bahkan menerima perbedaan. Alhamdulillah juga anak Ibu tumbuh sehat dan bugar di negeri itu. Saya yakin pasti kualitas udaranya terjaga ketat, sehingga serangan asma anak Ibu jauh berkurang bahkan sirna.
Eh, kembali ke Malang asma kembali kumat, padahal bukantah udara di Malang lebih baik daripada kota yang lebih besar? Jadi, jangan mampir ke Jakarta atau Surabaya atau Lusi (katanya kependekan dari Lumpur Sidoarjo?), bisa-bisa anak bakal dirawat karena serangan asma berat, saking kotornya udara.
Saya berharap banyak kaum kita yang bisa menengok negeri maju, mengambil manfaat dan menerapkan mana yang baik di negeri sendiri. Ada (banyak?) orang kita yang pernah menginjak negeri maju dan beradab, mematuhi aturan main di sana, tertib, disiplin, dan berlaku jujur, tak lupa berfoto keren dan memborong cindera mata saat pulang, tetapi saat kembali ke negeri sendiri sama sekali tak tersisa perbuatan baik yang dipatuhinya. Kembali ke jam karet, jorok, korup, dan lainnya. Memang di Indonesia sebagian anak negeri aneh-aneh, lho, Bu.
Pengalaman Ibu di negeri maju mestinya bisa jadi bahan pembelajaran bagi masyarakat di negeri kita yang ruwet ini, khususnya soal pembiasaan minum susu. Betul sekali Bu, di banyak buku tentang kesehatan anak, saya tak pernah membaca perlunya anak minum susu bubuk, tetapi benar bila susu-cair-segar. Di Indonesia ceritanya unik, saya belum perlu bilang mengapa.
Hanya begini penjelasan saya: Yang akan saya bicarakan di sini adalah susu untuk usia setahun ke atas ya, sebab untuk kurang dari setahun saya masih mengandalkan ASI. Kalaupun tak ada ASI saya harus menawarkan susu formula untuk bayi, sebab keadaan bayi di usia ini belum bisa mencernakan dan memroses air susu sapi dengan baik. Berbeda untuk usia di atas 1 tahun. Juga saya tak bicara susu khusus (susu bebas-lemak, susu hipo-alergenik, susu bebas-laktosa, susu kedelai, susu elemental) yang diberikan pada anak-anak dengan kelainan/penyakit tertentu, yang tentu jumlahnya hanya amat sedikit dibanding anak normal.
Bagi anak, remaja, dewasa, susu adalah nutrisi pelengkap selain makanan dengan gizi seimbang yang ditelannya sehari-hari. Dari sini saja sudah terlihat: susu adalah pelengkap, bukan diet utama (seperti bayi di bawah usia 6 bulan). Nutrisi utama yang diharapkan dari susu adalah kandungan kalsiumnya yang tinggi dibanding jenis makanan lainnya.
Susu cair segar - langsung dari sapi - adalah susu rekomendasi untuk anak-anak (usia lebih dari 1 tahun) dan dewasa. Susu segar cair tak terasa manis (tetapi tawar, plain), dan tak menggunakan tambahan rasa tertentu (madu, coklat, vanili, stroberi). Ini pilihan pertama. Di banyak skema tentang piramida makanan, selalu digambarkan gelas susu atau jumlah ml yang diperlukan dalam sehari.
Hanya harus diwaspadai, susu cair segar berkemungkinan tercemar kuman, sehingga mesti direbus sejenak (pasteurisasi, direbus tak sampai mendidih) agar sebagian kuman mati tapi vitamin yang dikandungnya masih utuh. Pada anak kecil atau ibu hamil kira-kira dibutuhkan sehari 400-500 ml susu cair untuk memenuhi kalsiumnya.
Sayangnya, untuk ras Asia atau Mongol (seperti yang pernah saya ulas) tak semua orang mampu mencernakannya, sehingga dapat timbul keadaan yang disebut intoleransi laktosa (laktosa adalah zat hidrat arang utama dalam susu). Ibu juga menambahkan suku Indian, ini saya baru tahu. Keadaan ini sering ditandai dengan perut kembung, mulas, mual, dan mencret.
Makin tua seseorang (ras Asia/Mongol) biasanya makin tak mampu mencernakan laktosa, sebab enzim pencernanya telah sirna - bahkan terkadang anak usia sekolah sudah mengalaminya. Untuk kelompok ini, kebutuhan kalsium harus diperoleh dari zat lain (udang, kerang, ikan, sayur brokoli) karena ia akan menolak minum susu. Kejam bila memaksanya minum susu, kecuali sengaja ingin membuatnya selalu mulas dan mencret.
Saya yakin di Malang - apalagi kota Batu - banyak tempat pemerahan sapi, sehingga susu segar mudah didapat, seperti di Illinois. Segar dan tentu saja murah. Kota-kota kecil di Barat dan Timur yang dekat dengan tempat pemerahan susu menyelenggarakan pengiriman susu segar dari rumah ke rumah setiap hari. Kini, banyak susu cair segar dikemas dalam kantong kertas. Masa kadaluarsanya cepat sekali, bisa 1-2 hari pasca pemerahan.
Di kota yang jauh dari tempat pemerahan (seperti Jakarta atau Surabaya), susu cair segar tak mudah didapat. Untuk ini industri pengolahan susu menawarkan susu yang sudah terolah sebagian, yang dikenal dengan nama susu cair pasteurisasi. Ini susu pilihan kedua. Susu cair ini vitaminnya belum rusak terdidihkan, dan sebagian kumannya masih ada. Susu ini juga dikemas dalam kantong kertas dan kadaluarsanya lebih lambat daripada susu cair segar (beberapa hari saja).
Lebih canggih dari susu cair pasteurisasi adalah susu cair UHT, yakni susu yang dipanaskan dalam suhu sangat tinggi (ultra high temperature), dan umumnya ditambahi vitamin sebab sebagian vitamin aslinya rusak akibat pemanasan yang tinggi tadi. Susu cair ini steril sehingga masa kadaluarsanya lebih lama (beberapa minggu-bulan). Ada yang disimpan di kantong kertas atau kaleng. Susu cair UHT lebih mahal daripada susu cair pasteurisasi.
Lebih canggih lagi adalah susu bubuk. Ini biasanya diolah dengan teknologi rumit, sebab harus membubukkan susu cair dahulu. Banyak rantai produksi yang terlibat, termasuk pabrik kemasan kalengnya dan promosinya. Tentu jauh lebih mahal karena konsumen harus membayar semua ongkos produksi mulai teknologi membubukkannya, biaya impor, pabrik kalengnya, promosi, nama dagang dan tambahan-tambahan lain.
Orang negeri seberang tahu persis soal faedah susu lalu memilih susu cair segar yang murah meriah, dan meninggalkan susu bubuk (apapun mereknya). Masuk akal bila kemudian produsen mengalihkan (atau menggiatkan) produksinya ke masyarakat yang masih mudah tersedot iklan susu bubuk, mana lagi selain negeri yang mirip kita, ya? Ditambah embel-embel mencerdaskan, membesarkan, menumbuhkan, menaikkan daya tahan tubuh saja sudah membuat konsumen mabuk kepayang dan bersemangat memborongnya.
Sayangnya, tak ada peternak sapi yang sanggup mempromosikan sapinya di radio dan teve, sehingga hanya gigit jari ketika susu segar sapinya tak disambut hangat konsumen susu Indonesia. Industri susu bubuk ini juga lebih suka mengimpor susu bubuk dari Australia atau New Zealand (seperti yang pernah disampaikan tatkala dunia heboh dengan melanin dari Cina baru-baru ini).
Salah satu yang perlu diketahui dengan mengkonsumsi susu cair adalah kandungan besinya. Kandungan besi susu cair agak sulit tercerna manusia, sehingga sangat mungkin seseorang yang hanya mengkonsumsi susu cair saja akan mengalami kekurangan zat besi - yang dikenal dengan anemia defisiensi besi. Maka, bagi yang mengkonsumsi susu cair jangan lupa mengkonsumsi makanan yang kaya zat besi seperti daging, limpa atau hati.
Industri susu bubuk juga tahu hal ini, sehingga berniat baik menambahkan zat besi ke dalam susu bubuknya. Sayangnya, pada beberapa merek susu bubuk yang diperkaya besi (dan mikronutrien tambahan lainnya) menjadikan rasanya tak segar lagi dan sering membuat tinja relatif lebih keras daripada bila tak mengkonsumsinya.
Bagi anak-anak yang pernah minum susu bubuk dan telah beralih ke susu cair, umumnya tak akan lagi menyukai susu bubuk. Kini produsen susu bubuk juga mulai mengeluarkan produk susu cair, setelah membaca gelagat masyarakat Indonesia yang mulai melek soal susu cair. Ini pertanda baik, yang mudah-mudahan harga jualnya jauh lebih murah.
Dari cerita di atas saya tak bisa menjawab mengapa dokter di Indonesia rajin menganjurkan susu bubuk tertentu tinimbang susu sapi segar generik yang lebih murah dan tersedia di negeri kita yang kaya sapi ini. Mungkin rujukan buku yang dibaca dokter itu beda dengan yang saya baca selama ini. Juga saya tak bisa menjawab mengapa dokter di Indonesia lebih suka menunjuk cepat-cepat merek susu bubuk tertentu daripada menerangkan tentang liku-liku industri susu cair dan susu bubuk.
Mungkin ada baiknya ibu bertanya langsung kepada beliau penganjurnya mengapa menganjurkan susu bubuk ini dan itu. Mengapa juga semester ini merek anjurannya tak sama dengan semester lalu. Mengapa tak pernah menjelaskan faedah susu cair segar generik, susu cair pasteurisasi, susu cair UHT. Saya kira banyak pembaca yang sudah tahu jawabnya dan senyum simpul membaca ulasan saya ini. Konon kata pepatah: sudah gaharu cendana pula.
Dokter Waldi
Sumber : Nova